Kamis, 11 November 2010

Mana Yg Lebih Afdol Berdoa Sendiri Atau Ikut Imam Setelah Selesai Melaksanakan Sholat Berjamaah

 
Mana Yg Lebih Afdol Berdoa Sendiri Atau Ikut Imam Setelah Selesai Melaksanakan Sholat Berjamaah
kepada yth.ustad sigit
saya mau menanyakan tentang berdoa setelah melaksanakan sholat berjamaah, manakah yg lebih afdol berdoa sendiri sendiri atau mengikuti imam. dan apakah ada hadist yg shahih tentang hal ini. mohon penjelasannya. dan terima kasih
jazakallahu khairan
ttd suryadi-batam
yadi
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam kepada Muadz bin Jabal,”Janganlah kamu melupakan untuk mengucapkan di ‘dubur’ setiap shalat : "ALLAAHUMMA A'INNII 'ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI 'IBAADATIK" (Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik.).” (HR. Ahmad, Abu Daud dan an Nasai)
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang maksud dari dubur shalat didalam hadits tersebut atau hadits-hadits doa lainnya yang semisal. Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud dari doa di situ adalah setelah mengucakan salam (selesai) shalat.
Sementara itu sebagian ulama lainnya, termasuk didalamnya Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa maksud dari “dubur shalat” adalah di akhir shalat sebelum salam, pendapat ini didukung dengan hal-hal berikut :
1.     Bahwa kalimat “dubur” kebanyakan digunakan untuk bagian dari sesuatu. Dubur hewan adalah bagian darinya begitu juga dengan dubur shalat.
2.     Terdapat riwayat bahwa diantara perbuatan Nabi shallallahu wa'alaihi wa sallam setelah shalat tidaklah melakukan doa didalamnya akan tetapi berupa istighfar, tahlil dan tasbih atau dzikir-dzikir lainnya.
3.     Bahwa berdoa didalam ibadah lebih utama daripada diluar ibadah.
4.     Sedangkan berdoa secara bersama-sama yang dipimpin oleh imam atau seseorang dari jamaah yang kemudian di”amin”kan oleh para jamaah lainnya maka tidaklah ada riwayat bahwa Nabi shallallahu wa'alaihi wa sallam, para khulafaur rasyidin atau seorang sahabat pun yang melakukan hal demikian dan sebaik-baik petunjuk adalah Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam.
Dengan demikian berdoa sendiri setelah melaksanakan shalat adalah lebih baik daripada berdoa secara berjamaah dengan dipimpin imam atau seorang dari jamaah karena berdoa sendiri setelah shalat adalah perkara yang masih diperselisihkan sedangkan berdoa berjamaah adalah perkara yang tidak ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabat.
Wallahu A’lam

Mimpi berjumpa Rasulullah SAW

Adapun hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
 
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ
يَتَمَثَّلُ بِي. رواه أبو هريرة
 
"Barangsiapa melihatku di dalam mimpi, maka sesungguhnya dia telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupaiku".
 
Ini memang hadits shahih, tetapi tidak berarti bahwa setiap orang yang mengaku bermimpi bertemu dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berarti dia benar-benar bertemu dengan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bisa jadi dia berdusta, atau bisa jadi setan mendatanginya, bukan sebagaimana wujud Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu setan mengaku bahwa dia adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan orang yang bermimpi itu tidak pernah berjumpa dengan Nabi, juga tidak pernah mempelajari Sunnahnya, bagaimana dia dapat mengetahui beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ?!

Jangankan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, setan pun bisa mengaku sebagai Allah subhanahu wa ta’ala dan contoh ulama salaf yang bermimpi diajak bicara oleh “Allah” pun ada dan bisa kita cek bahwa hal tersebut pernah terjadi.

Ada banyak orang yang salah sangka bahwa bila mimpi bertemu Nabi Muhammad saw maka pastilah “itu emang benar”. Mereka menggunakan dalil:
”Barangsiapa yang melihatku di saat tidur maka seakan-akan dia melihatku pada saat terjaga; dan setan tidaklah dapat menyerupaiku.” (HR. Bukhari)
Masalahnya: Benarkah dalam mimpimu itu dirimu bertemu dengan Rasulullah saw? Bagaimana bisa yakin bahwa itulah Rasulullah sedangkan kita tidak mengenal wajah Rasulullah?
Kita bisa mengeveluasinya dengan sifat-sifat Rasulullah saw sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Apabila sifat “rasulullah” di dalam mimpi itu sesuai dengan sifat Rasulullah saw sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka mungkin saja dirimu memang bertemu Rasulullah saw dalam mimpi tersebut. Namun kalau sifat “rasulullah” di dalam mimpi itu tidak sesuai dengan sifat Rasulullah saw sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka mungkin itu adalah setan yang mengaku-aku sebagai beliau.
Karena itu, marilah sekarang kita kaji apakah Rasulullah saw. suka membasmi umat yang maksiat. Mari kita perhatikan hadits-hadits shahih berikut ini.

 

Ciri Fisik Nabi Muhammad saw : Bagian Tubuh Lainnya

Pundak Nabi Muhammad saw

            Diriwayatkan dari Ali ra :: "Rasulullah memiliki pundak yang besar (tegap)." (HR. Al-Baihaqi dan Az-Zabidi, lihat juga dalam Kitab Al Ahadits Al Mukhtarah)

Dada Nabi Muhammad saw

            Dari Al-Hasan, dari Hindi, ia berkata, "Rasulullah itu berdada lebar. Antara perut dan dada berukuran sama." (HR. Ath-Thabarani dan Az-Zabidi)

Perut Nabi Muhammad saw

            Diriwayatkan dari Ummu Ma'bad, ketika mensifati Rasulullah, ia berkata, "Besarnya perut beliau tidak             menjadikan beliau merasa lelah." (Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zad Al-Ma'ad) 
            Dari Ummu Hani, ia menuturkan, "Saya tidak melihat bentuk perut Rasulullah kecuali saya ingat lipatan kertas-kertas yang digulung antara satu dengan yang lain." (HR. Ath-Thabarani) 
            Mukharrisy Al-Ka'bi menceritakan, "Suatu malam Rasulullah berumrah dari Ji'ranah. Saya melihat punggung beliau seperti batangan perak."

Pusar Nabi Muhammad saw

            Diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah memiliki pusar' yang berbulu. (HR. Al-Maqdisy dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarah) 
            Dari Al-Hasan, dari Hindi, ia berkata, "Rasulullah itu badannya bercahava, bulu-bulunya lembut dan menyambung dari bagian atas dada sampai pusar_ Bulu-bulu itu merangkai bagaikan benang. Sedangkan di bagian putting susu dan perutnya, bulu-bulu itu tidak tumbuh. Adapun di bagian lengan, pundak, dan bagian atas dada, bulu-bulu tersebut tampak banyak." (HR. Al-Haitsamy dalam Majma' Az-Zawa'id)

Jari Jemari Nabi Muhammad saw

            Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, "Rasulullah memiliki jari jemari tanga:- dan kaki yang tebal dan lentik memanjang." (HR. Ahmad, Al-Mizzi dalam Tandzib Al-Kamal, dan Ibnu Sa'ad)

Telapak Tangan Nabi Muhammad saw

            Masih dari Ali, "Rasulullah itu memiliki telapak tangan yang tebal." (FIR Ahmad, Al-Mizzi, dan Ibnu Sa'ad)
            Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali, dari Hindi, ia berkata, "Rasulullah itu telapak tangannya lebar." (HR. Al-Haitsami)
            Anas bin Malik menuturkan, "Saya sama sekali belum pernah menyentuh kulit yang lebih halus dari         sutera kecuali telapak tangan Rasulullah." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Al-Baihaqi, dan Ath-Thabari)
            Begitu pula Mariyah berkisah, "Saya sama sekali belum bersentuhan dengan kulit yang lebih lembut dari tangan Rasulullah."

Lengan Bawah Nabi Muhammad saw

            Dari Hindi (pamannya Al-Hasan bin Ali), ia berkata, "Rasulullah memiliki lengan bawah yang panjang." (HR. Al-Khallal dalam As-Sunnah)
            Diriwayatkan dari Shalih, budak At-Tau'amah, ia berkata bahwa Abu Hurairah mensifati Rasulullah.       Katanya, "Beliau itu dua lengannya panjang." (HR. Ahmad)

Betis Nabi Muhammad saw

            Jabir bin Samurah menuturkan, "Di kedua betis Rasulullah terdapat bentuk yang halus." (HR. At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi)
            Abdurrahman bin Malik bin Ju'syam meriwayatkan dari ayahnya bahwa saudaranya yaitu Suraqah berkata, "Ketika Rasulullah berada di atas ontanya, saya mencoba untuk mendekatinya. Di saat itu,          saya melihat betis beliau bagaikan pohon korma (saking putihnya)."

Tumit Nabi Muhammad saw

            Jabir bin Samurah berkata, "Rasulullah memiliki tumit yang tipis." (HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Telapak Kaki Nabi Muhammad saw

            Diriwiyatkan dari Al-Hasan bahwa pamannya yaitu Hindi berkata, "Rasulullah saw, termasuk orang yang             biasa memakai alas kaki. Telapak kaki beliau kurus dan memancarkan air." (HR. Al-Haitsami dalam Kitab             Majma' Az-Zawa'id)
            Utsman bin Abdil Malik menceritakan sebuah hadits dari pamannya, salah seorang pengikut Ali dalam    Perang Shiffin, dari Ali, ia berkata, "Rasulullah memiliki telapak tangan dan telapak kaki yang tebal."      (HR. Ibnu Sa'ad dan Al-Baihaqi)

Persendian Nabi Muhammad saw

            Diriwayatkan dariAli, ia berkata, "Rasulullah • memiliki tulang sendi yang gemuk." (HR. Al-Mizzi dalam Kitab Tandzib Al-Kamal) 
            Ibrahim bin Muhammad mendapatkan informasi dari salah seorang putra Ali bin Abi Thalib, katanya,     "Rasulullah • itu persendiannya besar." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Katsir). 
            Yang dimaksud dengan persendian di sini, menurut penulis, adalah ujung dan pangkal tulang, seperti ujung tulang pada kedua lutist, ujung tulang pada kedua siku, dan ujung tulang pada kedua pundak.

Berat Badan Nabi Muhammad saw

            Al-Hasan bin Ali meriwayatkan dari pamannya yaitu Hindi, bahwa Rasulullah memiliki postur tubuh yang             sedang, besar dan kokoh." (Lihat. Majma' Az-Zawdid). Maksudnya, anggota tubuh beliau sempurna     dan berpostur sedang, tidak gemuk dan tidak kurus.

Ukuran Tinggi Nabi Muhammad saw

           Diriwayatkan dari Rabi'ah bahwa ia pernah mendengar Anas bin Malik mensifati ciri-ciri fisik Rasulullah saw. Saat itu, Anas berkata, "Beliau adalah orang yang berperawakan sedang. Tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu pendek." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)
            Al-Bara' menyatakan, "Rasulullah adalah sosok yang tidak pendek, juga tidak tinggi." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Al-Baihaqi) 
            Masih dari Al-Bara', "Rasulullah itu orang yang berperawakan sedang." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan At-Tirmidzi) 
            Ibrahim bin Muhammad menerima berita dari putra Ali bin Abi Thalib, ia berkata, "Ketika Ali bin Abi    Thalib mensifati fisik Rasulullah, ia menyebutkan bahwa postur beliau tidak terlalu tinggi dan tidak         terlalu pendek._Beliau termasuk orang yang berperawakan sedang." (HR. Al-Baihaqi, liha: juga Kitab Tarikh Baghdad)
            Dari Al-Hasan, bahwa pamannya Hindi berkata, "Rasulullah itu perawakannya lebih tinggi dari orang yang berperawakan sedang, dan lebih pendek dari orang yang berperawakan tinggi kurus." (HR. Al-Haitsami dan Ibnu Katsir)
            Aisyah menuturkan, "Di antara sifat fisik Rasulullah adalah ketika Rasulullah sedang berjalan bersama orang banyak, tidak ada seorang pun yang lebih tinggi dari beliau. Mungkin ada dua orang pria yang dikenal berperawakan tinggi, tetapi ketika bersama beliau, terlihat bahwa perawakan beliau lebih tinggi dari keduanya. Baru kemudian setelah dua pria itu berjauhan dengan beliau, orang-orang melihat    keduanya sebagai orang yang berperawakan tinggi, sementara Rasulullah berperawakan sedang." (HR.    Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah dan As-Suyuthi dalam Al-Khasha'ish Al-Kubra)

Kulit Nabi Muhammad saw

            Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, "Rasulullah adalah orang yang telapak tangannya paling halus. Saya belum pernah menyentuh kain sutera yang lebih halus daripada halusnya telapak tangan beliau." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ath-Thabari) 
            Dari Utsman bin Abdul Malik, ia mendapat kabar dari pamannya yang termasuk pengikut Ali dalam       Perang Shiffin, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, "Rasulullah itu kulitnya halus dan lembut." (HR. Ibnu Sa'ad)

Warna Kulit Nabi Muhammad saw

            Anas bin Malik menceritakan, "Wama kulit Rasulullah putih berkilau, tidak hitam kusam dan tidak putih tulang." (HR. Ath-Thabari)
            Abu Hurairah menuturkan, "Rasulullahberkulit putih bagaikan kepingan-kepingan perak." (HR. As-Suyuthi dalam Al-Jami' Ash-Shagir dan AzZabidi dalam Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin) 
            Sedangkan Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, "Rasulullah itu berkulit putih kemerah-merahan." (HR. Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, dan Ibnu Sa'ad) 
            Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, "Rasulullah itu kulitnya berwarna sawo matang." (lihat Kitab Syarh   Asy-Syama'il dan Al-Hindi dalam Kitab Kanz Al-' Ummal). Kualitas hadits ini tidak shahih karena isinya bertentangan dengan hadits-hadits yang lain.
            Masih dari Anas, ia berkata, "Rasulullah adalah orang yang warna kulitnya paling bagus." (HR. Ath-Thabari dan Ibnu Katsir)

Paras Wajah Nabi Muhammad saw

            Diriwayatkan dari Al-Bara', ia berkata, "Saya sama sekali belum pernah melihat paras yang lebih tampan dari paras Rasulullah " (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
            Abu Ishaq menuturkan, "Ketika ada orang yang bertanya kepada Al-Bara', apakah paras wajah            Rasulullah itu seperti pedang (berkilau)?" Al-Bara' menjawab, "Tidak, tapi bagaikan rembulan." (HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Baihaqi)
            Abu Hurairah menceritakan, "Saya belum pemah melihat paras wajah setampan paras Rasulullah Seolah-olah cahaya mentari berjaian menyelusuri wajahnya." (HR. Ibnu Hibban) 
            Jabir bin Samurah mengisahkan, "Saya ketika itu melihat Nabi dengan berpakaian merah. Kemudian saya membanding-kannya dengan melihat bulan. Ternyata, dalam pengamatan saya, beliau lebih indah            daripada bulan." (HR. Abu Ya'la dan Al-Baihaqi) 
            Dari Al-Bara', ia berkata, "Saya belum pernah melihat seorang pria berpakaian merah yang lebih tampan dari Rasulullah. Beliau memiliki rambut yang dekat dengan pundaknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
            Sa'id bin Al-Jurairi mendengar berita dari Abu Thufail bahwa ia berkata, "Saat itu, saya sendirian melihat wajah Nabi." "Bagaimana, mohon jelaskan!" pinta Sa'id. Abu Thufail menjawab, "Beliau berparas putih,           manis, dan berperawakan sedang." (HR. Muslim, Ahmad, dan At-Tirmidzi)
            Diriwayatkan dari Ummu Ma'bad bahwa suatu ketika ia mensifati fisik Rasulullah "Beliau itu, dari kejauhan tampak sebagai orang yang paling manis dan paling tampan. Sedangkan dari dekat, beliau          tampil sebagai orang yang paling menonjol dan paling bagus di antara yang lain." (HR. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad)
            Anas bin Malik pernah berkata, "Paras Rasulullah itu bagaikan kepingan-kepingan perak." (HR. Ath-Thabari dan Ibnu Katsir)
            Aisyah menyebutkan, "Rasulullah saw adalah orang yang wajahnya paling tampan dan kulitnya paling bercahaya di antara yang lain." (HR. AlBaihaqi)
            Sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq menuturkan, "Wajah Rasulullah bagaikan bulatnya rembulan." (HR. Al-Mizzi dan Al-Hindi)
            Muhammad bin Ammar berkata kepada Ar-Rabi' binti Mu'awwidz, "Mohon jelaskan sifat fisik Rasulullh             kepada saya!" Ar-Rabi' menjawab, "Anakku, seandainya kamu melihat beliau, maka itu berarti kamu     sedang melihat matahari terbit." (HR. Ad-Darimi, Al-Haitsami, dan Al-Baihaqi)
            Ibnu Abbas menuturkan, "Sosok Rasulullah belum pernah ada bayangannya. Jika beliau berdiri sedangkan matahari bersinar, maka sinar yang terpancang dari beliau mengalahkan sinarnya matahari. Begitu pula jika beliau berdiri di tengah cahaya lampu, maka cahaya beliau lebih terang daripada cahayanya lampu." (HR. As-Suyuthi dalam Al-Jami' Ash-Shaghir). Selain Ibnu Abbas, redaksi hadits ini diriwayatkan pula oleh Jabir bin Samurah.

Keringat Nabi Muhammad saw

            Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, "Nabi biasa masuk ke rumah Ummu Sulaim, lalu tidur di   ranjangnya, sementara Ummu Sulaim sendiri sedang tidak ada. Suatu hari, beliau datang ke rumah Ummu Sulaim dan tidur di ranjangnya. Ada seseorang yang memberitahukan hal itu kepada Ummu Sulaim. "Rasulullah sedang tidur di ranjangmu, Ummu Sulaim!" katanya. Maka Ummu Sulaim pulang dan          mendapatkan tempat tidurnya penuh keringat. Tidak menunggu lama, ia langsung membuka tempat        pakaiannya (dan mengeluarkan kain di dalamnya), lalu menyerap air keringat tersebut dan diperasnya untuk dituangkan di gelas. "Apa yang kau lakukan, wahai Ummu Sulaim?" tanya Rasulullah. "Kami berharap dengan keringat engkau ini keberkahan untuk anak-anak kami," jawab Ummu Sulaim. "Kamu akan mendapatkannya," sahut Nabi. (HR. Muslim, Ahmad, dan Al Baihaqi)
            Masih dari Anas, "Rasulullah berkulit cerah dan keringatnya bagaikan butir-butir mutiara." (HR. Muslim dan Al-Baihaqi)
            Aisyah meriwayatkan, "Keringat Nabi di wajahnya seperti butiran mutiara yang basah, dan itu lebih harum daripada parfum kasturi." (HR. AzZabidi)
            Ali menuturkan, "Keringat Nabi bagaikan mutiara, dan harumnya bagaikan parfum kasturi." (HR. Ibnu    Sa'ad)
            Hubaib bin Abi Hardah mendapat berita dari seorang dari Bani Huraisy, bahwa ia berkata, "Saya berada di samping ayah saya ketika Rasulullah merajam Ma'iz bin Malik (dalam kasus perzinaan, penj.). Di saat beliau mengambil batu yang besar, saya merasa takut dan ngeri melihatnya. Maka saya merangkul Rasulullah saw. Ketika itulah, saya mencium keringat yang keluar dari ketiak beliau harum mewangi bagaikan parfum kasturi." (HR. Ad Darimi dan Ibnu Asakir)
            Diriwayatkan dari Abu Hurairah, "Suatu ketika ada seorang pria datang, "Wahai Rasulullah, saya mau menikahkan putri saya. Mohon kiranya engkau dapat menolong saya." Rasulullah menjawab, "Sebenarnya aku tidak memiliki apa-apa. Tapi jika mau, kamu besok datang lagi kemari dengan membawa botol yang tutupnya besar dan sebatang kayu pohon."Keesokan harinya pria itu datang lagi dengan membawa benda-benda yang disebutkan Nabi. Maka beliau langsung memeras keringat dari kedua lengannya, lalu dituangkan ke botol sampai penuh. "Ambillah ini dan bilang pada putrimu, jika ia hendak memakai parfum, cukup mencelupkan kayu ini ke botol, maka kayu itu akan membuatnya             harum," pesan Nabi. Semenjak itu, apabila putri pria tadi memakai parfum dengan kayu dari Nabi, maka penduduk Madinah mencium harum wangi yang semerbak darinya. Mereka menamakan keluarga pria       itu sebagai orang-orang yang harum," demikian Abu Hurairah menutup ceritanya. (HR. As-Suyuthi       dalam Al-La'ali Al-Mashnu'ah dan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu'at -Kedua kitab itu dikenal sebagai salah satu kitab kompilasi hadits maudhu atau hadits palsu, penj).

Tanda Kenabian  Nabi Muhammad saw

            Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, "Saya melihat tanda di antara dua pundak Rasulullah berupa kelenjar berwarna merah seperti telur burung." (HR. Ibnu Hibban)
            Dari Amr bin Akhthab, ia menuturkan, "Rasulullah pernah berkata kepada saya, "Wahai Abu Zaid, mendekatlah kemari dan usaplah punggungku."Maka ketika saya mengusapnya, jari saya mengenai tanda kenabian. Lalu saya bertanya, "Tanda apakah ini?" Beliau menjawab, "Bulu-bulu yang menggumpal." (HR. At-Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad) 
            Dari Abu Nadhrah, ia berkata, "Saya bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudri tentang tanda kenabian yang ada pada diri Rasulullah. Kemudian Abu Sa'id menjawab, "Tanda itu berupa daging yang menonjol." (HR. As Suyuthi dalam Al-Jami' Ash-Shaghir dan Al-Baihaqi)
            Dari Abdullah bin Sarjas, ia menuturkan, "Saya menghadap Nabi yang ketika itu sedang berada di tengah para sahabatnya. Kemudian saya berjalan ke belakang beliau. Rupanya beliau tahu persis apa yang saya inginkan. Maka beliau menurunkan selendang dari punggungnya. Pada saat itulah saya melihat tanda kenabian di pundaknya. Tanda itu sebesar kepalan tangan, disekelilingnya ada tahi lalat, terlihat seperti kutil-kutil yang biasa tampak di kulit." 
            Masih dari Abdullah bin Sarjas, "Saya menghadap Nabi . Kemudian saya makan roti dan daging bersamanya. Setelah itu, saya bergeser sampai tepat di arah belakang beliau sehingga melihat tanda kenabian di kedua pundaknya. Tanda itu di tengkuk pundak kin beliau berupa kumpulan daging yang dikelilingi oleh tahi lalat." (HR. Muslim)
            Dari Abi Ma'unah bin Qurrah, ia berkata, "Saya datang demi memenuhi panggilan Nabi saw. Dalam kesempatan itu, saya mohon beliau mengizinkan saya memasukkan kedua tangan ke jubahnya. Beliau tidak keberatan. Maka di saat itulah, saya menemukan di tengkuk pundaknya kelenjar yang menonjol." (HR. Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi)
Ref : Al Wafa, Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad saw, Ibnul Jauzi 

Robohnya Ruh Islam Kami

Di saat masyarakat Muslim di seluruh pelosok negeri mengalami kerusakan dan kelemahan di berbagai bidang kehidupan, datanglah pasukan Salib, dan mereka berhasil mengalahkan Bani Saljuq di Asia Kecil, dan menguasai ibukota Nicea. Tetapi, pasukan Salib tidak berhenti , sampai kemudian menguasai wilayah Syam, dan memaksa penduduknya untuk membayar jizyah kepada mereka. Betapa hinanya.
Serangan pasukan bertambah agresif, sehingga menguasai wilayah yang sangat luas. Tahun 491 Hijriyah/1097 Masehi, pasukan Salib terus memperluas serangan, dan berhasil menaklukan Anthakiyah, dan terus melakukan serbuan, dan berhasil merebut Baitul Maqdis (Palestina), tahun 492 Hijriyah/1098 Masehi.
Disetiap kota dan desa yang dilaluinya pasukan Salib melakukan pembantaian terhadap penduduk dengan sangat keji. Kuda-kuda yang mereka tunggangi berlumuran darah korban-korban pembantaian yang terdiri dari laki-laki, perempuan, anak-anak.
Para raja dan penguasa tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan invasi pasukan Salib yang terus mengganas, seluruh lapisan masyakat malah sibuk dengan urusan-urusan pribadi. Tidak ada yang peduli dengan nasib saudaranya yang dibantai oleh pasukan Salib.
Sejarah mencatat gambaran-gambaran yang ironis tentang sikap para pemimpin Islam dan penguasa dan masyarakat Muslim yang lebih mementingkan urusan pribadi daripada berusaha menghadapi bahaya yang mengancam. Ibnu Jauzi dalam bukunya al Muntazham dan Ibnu Al Atsir juga sejarawan lainnya, menceritakan ketika pasukan Salib menguasai kota Ramallah, Quds, dan ‘Asqalan, mereka membunuhi penduduk kota itu. Di kota al-Aqsha mereka membantai 70.000 kaum muslimin, yang meliputi ulama, pelajar, ahli ibadah, ahli zuhud, ahli fiqh, dan rakyat kota itu. Darah menggenang di mana-mana.
Kemudian, usai peristiwa itu penduduk wilayah Syam mengirim utusan, dan menemui Khalifah Bani Abbas dan penguasa di wilayah Timur. Ibnu Atsir dan Ibnu Katsir menggambarkan keberangkatan utusan penduduk Syam, dan hasil dari misi itu.
“Para penduduk pergi melarikan diri dari Syam menuju Iraq, mereka meminta bantuan kepada raja dan Sultan atas serangan pasukan Salib dari Eropa. Diantara mereka ada yang ditemani oleh Qadhi Abu Sa’ad al Harawi. Ketika masyarakat Bagdad mendengar berita itu menjadi gempar dan menangis tersedu-sedu”. Kemudian mengutus para fuqaha untuk memangkitkan semangat jihad umat. Kenyataan pahit ini, mendorong ahli syair, Abu al-Muzjaffar al Abiwardi, dan kemudian melantunkan syairnya :
Darah kami bercampur air mata yang tercucur,
Tidak ada lagi bagian tubuh yang tak terbalut luka,
Senjata yang paling rapuh adalah air mata yang berde rai,
Ketika perang semakin memanas dengan pedang yang saling beradu,
Alangkah malangnya putera-putera Islam,
Disaat sekain bahaya besar mengancam anak keturunanmu,
Bagaimana mungkin mata ini bisa tidur lelap,
Ketika di dera berbagai penderitaan,
yang membangunkan setiap orang tidur,
Saudara-saudara mu di Syam ,
Tidur diatas bantalan pembantaian atau ,
Di dalam perut binatang-binatang buas,
Tentara Salib telah membuat mereka terhina,
Sementara engkau terus bergelimang nikmat,
Dan hanya bersikap pasrah,

Ibn Taghri Badri melanjutkan para penyair dan ahli pidato terus berusaha membangkitkan semangat kaum Muslimin, namun tak membuahkan hasil. Ibnu Taghri mengemontari usaha-usaha yang dilakukan para penyair dan ahli pidato dengan,
“Akhirnya Qadi Abu Sa’ad dan delegasi lainnya kembali dari Bagdad menuju Syam tanpa mendapatkan bantuan sedikitpun, wa laa haula wa laa quwwata illa billah”.
Para raja dan sultan tidak peduli dengan kondisi umat Islam di Palestina, yang sudah dibantai oleh pasukan Salib. Sangat menyedihkan sikap para raja  dan sultan yang tidak peduli dengan pembantaian pasukan Salib yang sangat keji di al-Quds.
Digambarkan oleh Ibn Taghri Bardi, yagn menceritakan salah seorang utusan membawa sekarung besar yang berisi tumpukan tulang belulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak, lalu menggelarnya di depan para penguasa. Ironinya, sang penguasa itu justru berkata kepada menterinya : “Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting! Merpatiku, si Balqa’, sudah tiga hari menghilang , dan aku belum melihatnya”, cetusnya.
Umat dan para pemimpin serta penguasanya sudah tidak lagi memperhatikan akan nasib umat Islam, yang di ‘mangsa’ pasukan Salib, di abad ini. Di mana di Bagdad, Kandahar, dan Palestina, kaum muslimin dibantai, dan dihancurkan, tanpa peduli.
Tetapi, sebaliknya para pemimpin umat dan penguasanya  bercengkarama dengan pembunuh kaum muslimin, serta tertawa-tawa, tak merasakan kepedihan saudaranya. Seakan tidak terjadi apa-apa. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Wallahu’alam.
http://www.eramuslim.com/editorial/robohnya-ruh-islam-kami.htm

Musibah Di Atas Musibah

oleh Ihsan Tandjung
Dewasa ini kita sungguh prihatin menyaksikan bagaimana musibah beruntun terjadi di Indonesia, negeri berpenduduk muslim terpadat di dunia. Belum selesai mengurus musibah dua kecelakaan kereta api sekaligus di awal Oktober, tiba-tiba muncul banjir bandang di Wasior, Irian. Kemudian gempa berkekuatan 7,2 skala richter diikuti Tsunami hebat di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Lalu tiba-tiba kita dikejutkan dengan erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah. Belum lagi ibukota Jakarta dilanda banjir massif yang mengakibatkan kemacetan dahsyat di setiap sudut kota, bahkan sampai ke Tangerang dan Bekasi. Siapa sangka banjir di Jakarta bisa terjadi di bulan Oktober, padahal jadwal tahunan rutinnya biasanya di bulan Januari atau Februari..?
Kita sering heran mengapa kok di negeri berpenduduk muslim paling besar di dunia justeru Allah timpakan bencana secara beruntun dalam rentang waktu yang relatif berdekatan. Apalagi kita sudah diperingatkan bahwa masih ada lagi duapuluh gunung api yang perlu diantisipasi peningkatan aktifitasnya.
"Catatan kita ada 18 gunung yang berstatus waspada, 2 siaga dan 1 berstatus awas," kata Kepala Sub Bidang Pengamatan Gunung Berapi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agus Budianto dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (28/10/2010).
18 Gunung yang berstatus waspada adalah:
  1. Gunung Sinabung (Karo, Sumut)
  2. Gunung Talang (Solok, Sumbar)
  3. Gunung Kaba (Bengkulu)
  4. Gunung Kerinci (Jambi)
  5. Gunung Anak Krakatau (Lampung)
  6. Gunung Papandayan (Garut, Jabar)
  7. Gunung Slamet (Jateng)
  8. Gunung Bromo (Jatim)
  9. Gunung Semeru (Lumajang, Jatim)
  10. Gunung Batur (Bali)
  11. Gunung Rinjani (Lombok, NTB)
  12. Gunung Sangeang Api (Bima, NTB)
  13. Gunung Rokatenda (Flores, NTT)
  14. Gunung Egon (Sikka, NTT)
  15. Gunung Soputan (Minahasa Selatan, Sulut)
  16. Gunung Lokon (Tomohon, Sulut)
  17. Gunung Gamalama (Ternate, Maluku Utara)
  18. Gunung Dukono (Halmahera Utara, Maluku Utara)
Sedangkan 2 Gunung yang berstaus siaga adalah:
  1. Gunung Karangetang (Sulut)
  2. Gunung Ibu (Halmahera Barat, Maluku Utara)
1 Gunung bersatus awas yakni Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta.
Demikian pula dengan kasus gempa di kepulauan Mentawai yang diyakini oleh para ilmuwan bakal memicu datangnya megathrust (gempa besar). Detikcom (Sabtu, 30 Oktober 2010) mencatat sebagai berikut:
Jakarta- Gempa berkekuatan 7,2 skala richter (SR) versi BMKG dan 7,7 SR versi USGS, yang mengguncang Mentawai pada Senin (25/10) lalu disebut sebagai gempa susulan dari gempa besar pada 12 September 2007 silam. Saat itu, kekuatan gempanya 8,4 SR. Kembali diingatkan juga potensi gempa dahsyat hingga 8,8 SR di sekitar Sumatera beberapa dekade mendatang.
"Dari analisa US Geological Survey dan juga BMKG, gempa ini disebabkan oleh pergerakan patahan pada Sunda megathrust, yaitu pada bidang batas tumbukan LempengHindia-Australia terhadap Lempeng Sunda," ujar Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam, Andi Arief, dalam rilisnya, Rabu (27/10/2010).
Dituturkan Andi, pusat gempa Mentawai terletak di sebelah barat dari bagian utara sumber gempa September 2007, dan sekaligus juga di ujung utara dari sumber gempa bawah laut -megathrust (gempa besar) yang menurut prediksi para ahli berpotensi untuk mengeluarkan gempa besar hingga kekuatan 8,8 SR di waktu mendatang.
"Dalam beberapa bulan ke depan, tim EOS-LIPI akan menganalisis data dari jejaring alat GPS ini untuk lebih mengerti tentang mekanisme gempa kemarin," kata Direktur EOS, Prof Dr Kerry Sieh.
Pada 15 Oktober 2009, Dr Kerry Sieh menyatakan, gempa bumi kolosal (sangat besar) diperkirakan akan menghantam Pulau Sumatera dalam waktu 30 tahun ke depan. Ahli ilmu bumi memperingatkan bahwa tsunami besar dan gempa bumi mematikan yang terjadi sebelumnya merupakan suatu peringatan.
"Kami memperkirakan akan terjadi dengan kekuatan 8,8 SR, kurang atau lebihnya sekitar 0,1 poin," ujarnya.
Sungguh, hidup di negeri Indonesia dewasa ini kita sangat perlu mencamkan pesan Allah berikut ini:
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf [7] : 99)
Allah mengajarkan kepada kita bahwa perilaku alam sangat berkaitan dengan perilaku kumpulan manusia yang tinggal di lingkungan alam tersebut. Bila masyarakatnya baik di mata Allah, yakni beriman dan bertaqwa, maka Allah akan limpahkan banyak keberkahan kepada masyarakat tersebut dari langit maupun bumi. Tapi sebaliknya, bila mereka mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah akan timpakan hukumanNya kepada mereka melalui beragam bencana yang bisa datang di waktu siang maupun malam hari.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ
بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ
أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ
بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (QS. Al-A’raf [7] : 96-98)
Jangan-jangan Allah menilai bahwa masyarakat kita hanya mengaku secara lisan beriman dan bertakwa, padahal sesungguhnya kita sering mendustakan ayat-ayat Allah dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Kaum muslimin di negeri ini boleh banyak jumlahnya, namun yang benar-benar beriman jangan-jangan sangat sedikit. Kita mengaku beriman kepada Allah, tapi kita seringkali gagal menghadapi berbagai ujian yang Allah sodorkan. Sehingga kita tidak dipandang benar dalam pengakuan keimanan, malah kita dinilai Allah dusta dalam pengakuan keimanan. Padahal setiap ujian yang ada dalam hidup ini adalah untuk mendeteksi kemurnian iman seseorang.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا
أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا
وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)
Demikian pula dengan ke-taqwa-an yang kita klaim bersemayam di dalam diri kita. Jangan-jangan kita baru bertaqwa yang sifatnya artifisial belum taqwa kepada Allah yang sejati. Padahal setiap menghadiri sholat jumat, kita selalu diperingatkan oleh para khotib untuk bertaqwa yang sebenarnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali-Imran [3] : 102)
Berbagai bencana yang menimpa masyarakat ini jelas mengakibatkan munculnya berbagai macam musibah. Musibah itu meliputi kehilangan nyawa orang-orang yang dicintai, harta-benda, tempat tinggal dan kenormalan hidup sehari-hari. Jelas ini semua merupakan derita dunia yang sangat berat. Sehingga wajar dan bersyukurlah kita melihat begitu banyaknya fihak yang bersegera mengulurkan tangan dengan memberikan aneka bentuk bantuan. Dan sudah barang tentu bantuan yang paling minim tetapi sekaligus paling bermakna ialah bantuan doa.
Salah satu doa yang Nabi Muhammad shollalahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kita ialah sebuah doa panjang yang di dalamnya menyebutkan persoalan musibah. Dan sangat menarik untuk dicatat bahwa ternyata jenis musibah yang Nabi Muhammad shollalahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan Allah dalam menghadapinya ialah musibah yang menyangkut urusan dien (agama).
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا
.... dan janganlah Engkau (Ya Allah) jadikan musibah kami pada agama kami. (HR. Tirmidzi 3424)
Melalui potongan doa di atas jelaslah bagi kita bahwa Nabi shollalahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan bilamana musibah yang datang menimpa berkenaan dengan kemaslahatan urusan dien (agama) kita. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh merasa sedih bila kehilangan nyawa orang-orang yang dicintai, harta-benda, tempat tinggal dan kenormalan hidup sehari-hari. Tetapi kita diarahkan untuk lebih khawatir bila musibah yang menimpa sampai menyebabkan kehilangan dalam urusan agama. Jangan sampai kita merasa sedih bila kehilangan berbagai hal yang bersifat duniawi, namun kita tidak sedih dan risau bila kehilangan agama, iman, taqwa atau petunjuk-hidayah ilahi. Sebab pada hakekatnya urusan dien merupakan urusan yang paling berharga dan bermanfaat dalam kehidupan di dunia ini. Agama merupakan harta utama bagi seorang muslim sejati. Jangan sampai kita sedemikian peduli mempertahankan berbagai harta duniawi namun rela kehilangan harta utama, yaitu iman dan taqwa. Bila sampai ini yang terjadi berarti kita telah ditimpa musibah di atas musibah..!
Maka dalam kondisi sekarang yang paling penting diingatkan kepada siapapun, terlebih khusus korban bencana, ialah agar bersabar menghadapi musibah kehilangan berbagai harta dunia sambil mengokohkan iman dan taqwa mereka. Sebab iman dan taqwa merupakan harta utama yang tidak boleh sampai lepas betapapun telah lepasnya berbagai harta dunia.
Belakangan ini media berusaha membangun opini masyarakat bahwa perilaku salah seorang yang telah menjadi korban tewas di saat meletusnya gunung Merapi merupakan tokoh yang patut diteladani. Dialah sang “juru kunci” gunung Merapi. Ia patut diteladani karena kegigihannya menjalankan tugas sebagai kuncen gunung Merapi hingga saat terakhir sehingga rela mengorbankan nyawanya demi menjalankan tugas tersebut. Sampai di sini sesungguhnya masalah telah timbul. Tetapi yang membuat urusan ini menjadi sangat serius ialah tatkala ditemukannya jasad yang bersangkutan dalam posisi “bersujud” kemudian media mulai mengembangkan opini bahwa tokoh ini mati sebagai seorang “muslim yang taat.” Apakah benar demikian? Cukupkah kita menilai seseorang muslim taat dengan ditemukannya fakta ini? Cukupkah ia dinilai sebagai orang soleh hanya berdasarkan fakta bahwa ia rajin sholat tepat waktu?
Seorang yang mengaku muslim tidak boleh dikafirkan semata-mata karena perbuatan maksiat yang telah dilakukannya. Namun bila terbukti bahwa ia terlibat dalam ucapan, sikap atau perbuatan yang tidak bisa tidak diartikan sebagai hal yang menyebabkan dirinya dihukumi sebagai kafir apalagi musyrik, maka adalah suatu kebatilan bila kita tetap menyebutnya sebagai seorang muslim, apalagi muslim yang taat.
Mari kita coba amati kasus juru kunci gunung Merapi. Bagaimanakah keadaannya?
Secara pribadi, penulis tidak kenal dengan beliau. Namun berdasarkan berbagai bukti yang bisa kita saksikan dan baca di media kita memperoleh kesimpulan bahwa profesinya adalah sebagai seorang kuncen. Dan apakah sebenarnya makna tugas sebagai juru kunci gunung Merapi? Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas kita jumpai keterangan sebagai berikut:
Juru kunci Merapiadalah seorang abdi dalem Keraton Yogyakartayang ditunjuk langsung oleh SultanKasultanan Yogyakartauntuk menjaga dan mengelola makhluk halus di wilayah Gunung Merapi. Juru kunci Merapi terakhir adalah Mas Penewu Suraksohargo atau lebih dikenal dengan nama Mbah Maridjan, yang menjabat sejak tahun1983 hingga kematiannya dalam erupsi gunung Merapi di tahun 2010.
Dari detikNews 31 Oktober 2011 kita kutip sebagai berikut:
Legenda Gunung Merapi telah ditinggalkan sang kuncen yang selama 30 tahun telah menemaninya. Lalu seberapa penting arti juru kunci di gunung teraktif di nusantara ini.
"Itu penting banget, kalau tidak ada juru kunci para pendaki tidak akan mendapat informasi tentang gunung yang didaki. Kuncen biasanya memberi tahu apa yang dilarang, jalur pendakian, penyelamatan dan lain-lain," kata mantan mahasiswa pencinta alam, Sandi M, yang saat ini menjadi relawan PMI Kabupaten Sleman, saat berbincang dengan detikcom, di posko utama penanggulangan bencana Merapi di Pakem, Jalan Kaliuran, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (30/10/2010).
Menurutnya, Mbah Maridjan bertugas menjaga gunung dengan cara menerawang dari pengalaman atau 'ilmu titen', dan menggabungkannya dengan firasatnya yang telah terlatih sebagai warga Merapi sejak kecil.
Berdasarkan dua keterangan di atas berarti kita dapat simpulkan bahwa seorang “juru kunci” ialah seorang yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai perkara yang ghaib dan alam ghaib. Dan seorang “juru kunci gunung” berarti seorang yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai perkara ghaib dan alam ghaib yang terkait dengan gunung tersebut.
Jika kesimpulan ini benar, berarti profesi seorang “juru kunci” identik alias sama dengan profesi seorang dukun. Yang di dalam persepektif ajaran Islam yang paling inti -yaitu Tauhid- merupakan profesi yang sarat dengan dosa syirik dan pelakunya disebut seorang musyrik. Ia telah mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain Allah subhanahu wa ta’aala. Pantaslah bilamana kita sering melihat sang juru kunci gunung Merapi melakukan ritual-ritual berupa pemberian sesajen serta menyembah ke arah batu besar tertentu dan lain sebagainya yang mana semua itu merupakan bentuk-bentuk upacara peribadatan lazimnya seorang dukun, paranormal atau panganut aliran kepercayaan. Dan ini semua jelas tidak pernah dicontohkan oleh teladan kita Nabi Muhammad shollalahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sebaliknya, ini semua merupakan praktek kaum musyrikin yang dengan tegas ditentang dan diperangi oleh beliau.
Ketika mendefinisikan salah satu makna thaghut, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam bukunya Kitabut Tauhid menjelaskan sebagai berikut: “Salah satu makna thaghut ialah orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib selain Allah.” Bila ada orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib, maka dia adalah thaghut, seperti dukun, paranormal, tukang ramal atau tukang tenung. Allah berfirman:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا
“Dialah (Allah), Dzat yang mengetahui perkara yang ghaib. Dia (Allah) tidak menampakan yang ghaib itu kepada seorangpun” (QS. Al-Jin [72] : 26)
Sedangkan konsekuensi ber-Tauhid ialah di satu sisi beriman dengan benar kepada Allah subhanahu wa ta’aala dan di sisi lain dengan tegas mengingkari thaghut, tidak membenarkannya apalagi mengimaninya. Dan barangsiapa yang ber-Tauhid dengan lengkap seperti ini berarti ia telah mengikatkan dirinya dengan tali penghubung yang paling kokoh kepada Allah, Rabb, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam raya beserta segenap isinya.
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ
الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا
"Barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus." (QS. Al-Baqarah [2] : 256)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia mempercayainya, maka dia telah kafir. Lalu bagaimana lagi dengan si dukun itu sendiri?
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ
بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Abu Hurairah dan Al Hasan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa mendatangi seorang dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Ahmad 9171)
Demikianlah, sejauh yang kita ketahui juru kunci gunung Merapi menjalankan profesinya hingga maut menjemputnya. Kita tidak pernah mendengar bantahan dari siapapun –apalagi dari dirinya sendiri- bahwa ia pernah ber-taubat atau baro (berlepas diri) dari posisinya sebagai juru kunci. Artinya, hingga saat-saat terakhir hidupnya ia meyakini bahwa dirinya adalah seorang yang memiliki kemampuan mengetahui perkara ghaib seputar gunung Merapi. Dan ini berarti ia tetap keukeuh sebagai dukun, paranormal alias thaghut...! Lantas bagaimana sosok seperti ini layak dijuluki sebagai “muslim yang taat.” Walau jasadnya ditemukan dalam keadaan bersujud sekalipun, ini tidak dapat begitu saja menghapuskan keterlibatannya di dalam dosa yang tidak terampuni, yaitu dosa syirik.
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ
ضَلالا بَعِيدًا إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ
إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka. (QS. An-Nisa [4] : 116-117)
Seorang muslim hanya dapat menilai berdasarkan apa yang tampak/lahir, sedangkan urusan yang tersembunyi/batin kita serahkan sepenuhnya kepada Allah ta’aala. Jangankan kita yang merupakan manusia biasa, sedangkan Nabi Muhammad shollalahu ‘alaihi wa sallam sekalipun tidak mampu berbuat apapun tatkala mendapati pamannya Abu Thalib di akhir hayatnya mati dalam keyakinan ajaran kaum musyrikin dan enggan menyambut ajakan Tauhid yang diserukan keponakannya. Padahal kita tahu begitu banyak kebaikan yang telah dilakukan Abu Thalib dalam hidupnya, termasuk membela keponakannya pada saat-saat tertentu.
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ
جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ
وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لِأَبِي طَالِبٍ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا
كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ
أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ (البخاري)
Ketika menjelang kematian Abu Thalib, datanglah Rasulullah shollalahu ‘alaihi wa sallam dan didapati di samping pamannya Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah. Nabi shollalahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Thalib: “Pamanku, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah, suatu kalimat yang aku akan bersaksi di hadapan Allah untuk melindungimu.” Sehingga akhir ucapan Abu Thalib adalah ikut millah Abdul Muthallib dan ia enggan mengucapkan Laa ilaha illa Allah. Maka bersabda Rasulullah shollalahu ‘alaihi wa sallam: “Demi Allah, akan kumintakan ampunan Allah atasmu selagi Allah tidak melarangnya… lalu Allah turunkan At-Taubah ayat 113.” (HR. Bukhary)
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا
أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ
كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ
مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah [9] : 113)
Sungguh, kita sangat prihatin menyaksikan begitu banyaknya orang yang mengalami musibah akibat berbagai bencana yang terjadi. Mereka terpaksa mengalami musibah kehilangan berbagai harta duniawinya. Kehilangan nyawa dirinya, keluarganya, harta-bendanya, tempat tinggalnya dan berbagai kenormalan hidup lainnya. Tetapi Nabi shollalahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita agar mewaspadai musibah yang lebih hebat, yaitu musibah kehilangan dien (agama) kita. Saudaraku, janganlah kita sedemikian sedih dan emosionalnya sehingga kehilangan kemampuan furqon (membedakan antara al-haq dan al-batil). Janganlah kesedihan kita membuat hilangnya kesanggupan membedakan mana Tauhid dan mana syirik. Sebab Tauhid pasti mendatangkan keberkahan, sedangkan syirik pasti mendatangkan murka dan siksaan Allah. Apalagi jika kita malah mencampur-adukkan antara iman dan kafir. Kita malah mengatakan pelaku kemusyrikan justeru sebagai muslim yang taat. Inilah musibah di atas musibah yang lebih mengerikan. Yang boleh jadi justeru semakin mengundang datangnya lebih banyak bencana lainnya. Wa na’udzubillahi min dzaalika.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Anfal [8] : 29)\
http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/musibah-di-atas-musibah.htm

obama masuk masjid

lha kalo pertanyaannya itu, niatnya apa, tujuwannya apa? lha sapa tahu niat dan tujuwan seseorang masuk ke mesjid? seorang malaikatpun mungkin ndak bisa mendeteksi soal2 keikhlasan dalam hati seseorang. malaikat pun cuman bisa mencatat seseorang masuk ke mesjid dan ndak tahu niat dan tujuwannya apa.

saya sih potitive thinking ada orang berkunjung ke mesjid. juga positive thinking bahwa disana ada banyak ulama yang tentu saja bijak untuk menerima tamu dari siapapun yang mau berkunjung ke mesjid. masalahnya apa?




2010/11/11 wirawan <wirawan.smg@gmail.com>
 
Milis ini sarana belajar dan diskusi.
 
Dalam kaidah fiqh dikenal kaidah :
Perkataan ulama itu membutuhkan dalil, bukan dijadikan dalil.
Pertanyaan saya, dalilnya orang kafir boleh masuk masjid itu apa?
Kategori kafir apa? Di area mana? Tujuan / niatnya apa? dst
 
Kalau tidak mau belajar, namanya kita bertaklid buta kepada ulama.
Ingat, masjid adalah rumah Allah subhanahu wa ta'ala...
2010/11/11 taufiq elrahman <taufiq.elrahman@gmail.com>
  istiqlal pan gudangnya para alim ulama. udah berkali2 siapapun boleh berkunjung ke masjid istiq. jadi kesimpulannya boleh2 aja.  apa masalahnya? lagian sapa orangnya yang tahu seseorang itu kafir atau ndak?







2010/11/11 wirawan <wirawan.smg@gmail.com>
  Wa 'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Kafirnya kafir harbi atau kafir dzimmi atau apa dulu nih pak?

Kemudian masuknya ke mana, apa di area parkir, teras atau mana?

Lalu tujuannya masuk juga apa? Apa mau masuk Islam, mau shalat atau malah mau pamer bahwa kekuasaannya terhadap Islam sudah tak tertandingi, sehingga ulama mau nolak pun tidak berani alias takut?

Masjid secara istilah adalah tempat sujud, atau tempat shalat (secara syariat) boleh juga digunakan untuk dzikrullah (dzikir, tilawah, majelis ta'lim, halaqah, liqo)

membangkitkan jiwa berkorban

[Al Islam edisi :  530] Saat kita merayakan Idul Adha, ingatan kita pasti melayang pada kisah Nabi Ibrahim as., yang Allah SWT perintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail as. Kisah ini telah begitu lekat di dalam benak kita serta selalu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang beriman dan berserah diri. Allah SWT telah mengabadikan kisah kedua kekasih-Nya ini di dalam al-Quran:
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾
Kami lalu memberikan kabar gembira kepada Ibrahim dengan (kelahiran) seorang anak yang amat sabar. Tatkala anak itu sampai pada umur sanggup bekerja dengan Ibrahim, Ibrahim berkata, “Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Karena itu, pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail  menjawab, “Ayah, lakukanlah apa pun yang Allah perintahkan kepada engkau, insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS ash-Shaffat [37]: 101-102).
Kisah ini setidaknya menggambarkan dua hal: ketaatan dan pengorbanan.  Pertama: terkait ketaatan, kisah ini tegas mengajari kita agar kita selalu menaati semua perintah Allah SWT, meskipun untuk itu kita mesti mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai, sebagaimana yang ditunjukkan Ibrahim as. dan Ismail as. Apalagi Allah SWT telah berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٦٥﴾
Demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman hingga menjadikan engkau hakim dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS an-Nisa’ [4]: 65).
Allah SWT juga berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّـهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا ﴿٣٦﴾
Tidaklah patut bagi Mukmin laki-laki maupun perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain tentang urusan mereka (QS al-Ahzab [33]: 36).
Kedua ayat ini menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwa kita wajib menaati semua ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Kita pun wajib melaksanakan semua hukum Allah dengan hati tunduk dan pasrah. Sebaliknya, kita wajib menolak semua keyakinan/ideologi dan hukum yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam seperti sosialisme, komunisme, sekularisme, liberalisme, pluralisme, demokrasi, dan lain sebagainya.
Kedua: lebih dari sekadar taat, kisah Ibrahim as. dan Ismail as. juga telah mengajari kita untuk mengorbankan apa saja yang kita miliki dan cintai sebagai bukti kepasrahan kita kepada Allah SWT. Apalagi Allah SWT telah menyuruh kita untuk menempatkan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kita kepada yang lain, bahkan di atas kecintaan kita kepada diri kita sendiri. Allah SWT berfirman:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّـهُ بِأَمْرِهِ
Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, karib kerabatmu kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-NYA.” (QS at-Taubah [9]: 24).
Sayang, kisah ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as. dan Ismail as. ini sekadar dibaca, namun belum dijadikan ibrah oleh sebagian besar umat Islam. Memang, tiap tahun mereka merayakan Idul Adha serta mengenang kisah ketaatan dan pengorbanan dua hamba Allah ini. Namun, kisah kedua kekasih Allah ini belum menyalakan keimanan dan ketundukan mereka secara total pada syariah Islam. Mereka justru tetap berhukum pada aturan-aturan sekular yang kufur seraya meminggirkan hukum-hukum Allah SWT dari kehidupan mereka. Bahkan sebagian mereka, khususnya para penguasa mereka, berusaha dengan keras menolak dan memusuhi syariah Islam. Jika demikian, dimana mereka meletakkan kisah ketaatan dan pengorbanan Ibrahim as. dan Ismail as.?
Lebih dari itu, Allah SWT telah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum (QS al-A’raf [7]: 40).
Tidak hanya itu, ada pula sekelompok orang yang mengaku dirinya pengusung gagasan liberal, yang dengan terang-terangan dan tanpa malu berusaha dengan keras menjajakan pemikiran dan gagasan kufur yang ditujukan untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslim.  Dengan dalih demokrasi, HAM dan liberalisme, mereka berupaya menundukkan al-Quran dan as-Sunnah di bawah kepentingan-kepentingan jahat mereka.   Sesungguhnya seluruh pemikiran dan gagasan liberal tidak beranjak dari sudut pandang Islam, tetapi beranjak dari HAM, demokrasi dan liberalisme.   Namun, agar ide-ide sesat mereka diterima dan disambut oleh kaum Muslim, mereka membungkusnya dengan label pemikiran Islam. Mereka ini sesungguhnya hanya diperalat oleh orang-orang kafir untuk memadamkan cahaya Allah. Allah SWT berfirman:
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّـهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّـهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٨﴾
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut (tipudaya) mereka, tetapi Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya walau orang-orang kafir membencinya (QS Ash Shaff [61]: 8).
Di sisi lain, para penguasa di negeri-negeri Islam, termasuk di negeri ini, malah menjadi penjaga setia sistem kufur. Mereka bahkan memaksa anak-anak kaum Muslim untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum kufur itu. Bahkan dengan dalih menjaga konstitusi negara, mereka terus menghalang-halangi setiap usaha yang ditujukan untuk menerapkan syariah Islam secara total di negeri-negeri kaum Muslim. Sebaliknya, mereka bahkan terus memproduksi UU yang berlawanan dengan  akidah dan syariah Allah SWT. Lahirlah di negeri ini UU KDRT, UU Migas, UU SDA Air, UU Penanaman Modal, UU Energi, UU Minerba, UU Pendidikan, UU Kesehatan, dan sebagainya, yang jelas-jelas merugikan rakyat dan kaum Muslim.    Padahal sebagian besar penguasa maupun anggota perwakilan rakyat adalah anak-anak kaum Muslim. Namun, mengapa mereka justru menjadi orang pertama yang menolak setiap bentuk formalisasi syariah Islam dalam tatanan masyarakat dan negara?  Mengapa mereka malah bersekongkol dengan orang-orang kafir untuk membuat aturan-aturan yang sejatinya tidak berpihak kepada Islam dan kaum Muslim?
Penerapan sistem kufur ini telah berdampak luas bagi masyarakat dan kaum Muslim.  Kesyirikan dan kemaksiatan marak di tengah-tengah masyarakat. Perzinaan,  pembunuhan, pemakaian narkoba, mabuk-mabukkan, pencurian dan korupsi semakin merajalela. Kemaksiatan semacam perzinaan dan perselingkuhan malah disebarluaskan tanpa ada rasa malu lagi. Seks bebas bahkan difasilitasi dengan ATM kondom agar aman dari penyakit AIDS.
Sungguh aneh dan ironis sekali, tindakan yang mendorong terjadinya perzinaan dan seks bebas justru dilegalkan dan diberi kemudahan-kemudahan, sementara pernikahan dini dan poligami yang halal justru dihujat dan dianggap sebagai penindasan terhadap kaum wanita.
Sesungguhnya, kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa satu-satunya solusi untuk menyelesaikan berbagai persoalan kaum Muslim seperti terpapar di atas adalah dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam wilayah individu, masyarakat dan negara. Sebaliknya, tatkala hukum-hukum kufur diterapkan di tengah-tengah masyarakat, kita akan terus bergelimang dalam kemaksiatan, kemunduran dan keterbelakagan.  Oleh karena itu, sebagai wujud ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kita harus berjuang untuk menegakkan kembali syariah Islam dalam institusi Khilafah Islamiyah.  Sungguh, hanya dengan cara ini saja umat Islam bisa terbebas dari persoalan hidup mereka, dan hanya dengan cara ini pula umat manusia bisa keluar dari krisis multidimensional yang mendera kehidupan mereka.
Untuk itu, kita tidak boleh berdiam diri terhadap sistem dan aturan kufur yang diterapkan di tengah-tengah kita. Kita wajib berjuang menegakkan kembali syariah Islam dan Khilafah Islam.  Kita wajib memberikan andil dan kontribusi bagi perjuangan menegakkan kembali syariah dan Khilafah ini.  Sebaliknya, kita haram menolak dan memusuhi seruan untuk kembali pada syariah dan Khilafah. Kita juga wajib memberikan kontribusi, baik harta, tenaga, maupun pikiran demi tegaknya syariah Islam dan sistem pemerintahan Islam yang agung ini.
Akhirnya, Idul Adha dan kisah Nabiyullah Ibrahim as. dan Ismail as. ini harus kita jadikan inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk selalu menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sekaligus untuk senantiasa berkorban dalam perjuangan menerapkan syariah Islam secara kaffah melalui penegakkan Khilafah Islamiyah.
Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada para para pemimpin kita, agar mereka kembali pada syariah Islam dan sistem pemerintahan Islam swerta agar mereka kembali menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa.  Kita juga memohon kepada Allah, agar Allah memberikan kekuatan dan keberanian kepada para pemimpin bangsa ini untuk keluar dari tekanan, hegemoni dan dominasi kaum kafir.  [Disarikan dari Naskah Khutbah Idul Adha 1431 H yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia]
KOMENTAR AL-ISLAM:
SBY Bicarakan Kemerdekaan Palestina dengan Obama (Detik.com, 9/11/2010)
Aneh! Bicara kemerdekaan dengan penguasa negara penjajah dan pendukung utama Israel, sang penjajah Palestina.
 

Selasa, 09 November 2010

Merapi Menyongsong Obama

Diposting pada Selasa, 09-11-2010 | 17:34:42 WIB

Oleh : Mulyanto

Letusan gunung Merapi terus mengganas. Ratusan tewas terkena semburan awan panas. Korban sangat mungkin bertambah, mengingat Merapi belum menunjukkan aktivitasnya yang menurun. Ratusan ribu pengungsi bertebaran di berbagai wilayah yang berhubungan langsung dengan gunung teraktif di Indonesia tersebut, seperti Boyolali, Klaten, Sleman, Magelang, dan Yogyakarta.
Kedatangan SBY tidak mampu 'meluluhkan' gejolak Merapi, namun justru letusan semakin besar. Amuk merapi memang selalu dikaitkan dengan berbagai mitos kesewenangan-wenangan para pemimpin. Mitos tersebut diwariskan turun temurun, dalam perspektif syare'at kadang menyimpang, walaupun awalnya tujuannya untuk 'menjewer' kedhaliman para pemimpinnya.
Dalam sudut pandang Islam, bencana dan musibah tidak semata-mata fenomena alam. Ada korelasi antara 'kemurkaan' alam dengan perbuatan manusia. Allah mengingatkan dalam surat Ar Rum ayat 41.
" Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)"
Banjir misalnya dapat dijelaskan secara akademis diantaranya akibat tanah longsor, penebangan hutan yang liar, ataupun tanggul yang jebol serta pembangunan berbagai rumah didaerah perbukitan tanpa mengindahkan etika. Akan tetapi hal tersebut tidak lepas dari sikap serakah, dhalim yang dilakukan manusia terhadap lingkungan sekitarnya.
Begitu pula musibah dan bencana. Pertama: bisa merupakan ujian. Dengan ujian tersebut Allah ingin melihat siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh dengan keimanannya. Dengan ujian pula Allah ingin meninggikan derajat hamba-hamba-Nya.
Hal ini sebagaimana firman Allah;
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al Ankabut; 2-3)
Adapun bentuk ujian tersebut diantaranya; kelaparan, ketakutan, kekurangan harta dan jiwa. Hal ini sebagaimana firman Allah;
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (Al Baqarah; 155)
Kedua; Merupakan adzab yang diturunkan Allah kepada hamba-hamba-Nya akibat melampau batas terhadap perintah-Nya. Adzab tersebut akan menimpa semua manusia, baik yang shaleh maupun tidak. Hal ini disebabkan karena hilangnya amar ma'ruf nahyi munkar. Sementara, saat kemungkaran merajalela, mereka menganggap bahwa hal tersebut sebagai urusan pribadi. Agama tidak boleh campur tangan. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah;
“Jika timbul maksiat pada umatku, maka Allah akan menyebarkan adzab (siksa) kepada mereka. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah tidak ada pada waktu itu orang-orang shalih?” Beliau menjawab: ”Ada”. Aku bertanya lagi: “Apa yang akan Allah perbuat kepada mereka?” Jawab Beliau: “Allah akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan maksiat, kemudian mereka akan mendapat ampunan dan keridhoan dari Robbnya.” (HR. Imam Ahmad(
Korelasi antara bencana dan kemaksiatan yang dilakukan manusia juga disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits yang yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Dimana saat Rasulullah memberikan nasehat kepada sahabat muhajirin. Berbagai musibah akan muncul saat masyarakat telah terjangkiti lima macam penyakit.
Pertama; Jika muncul perbuatan zina pada suatu  kaum dan mereka melakukan secara terang-terangan maka akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada orang-orang sebelum mereka.
Kedua; Jika mengurangi takaran dan timbangan maka akan ditimpakan pada mereka paceklik, kesusahan hidup dan kesewenang-wenangan (kedzaliman) para penguasa atas mereka.
Ketiga; Jika mereka menahan zakat, Allah akan menahan hujan dari langit, seandainya bukan karena hewan ternak, niscaya tidak akan turun hujan atas mereka.
Keempat; Jika mereka melanggar perjanjian yang telah di tetapkan Allah dan Rasul-Nya melainkan Allah akan menguasakan musuh-musuh dari luar kalangan mereka atas mereka, lalu merampas sebagian yang ada di tangan mereka.
Kelima: Selama pemimpin-peminpin mereka tidak berhukum kepada kitabullah dan tidak memilih yang terbaik dari yang diturunkan Allah atas mereka, maka Allah akan jadikan musibah di antara mereka sendiri.”

Lalu, apa hubungannya antara kedatangan Obama dengan amuk merapi? Obama merupakan simbol kedhaliman dunia. Kedatangan Obama meneguhkan bergandengannya para pemimpin negeri ini dengan tangan-tangan kedholiman. Jika SBY sebagai 'pemilik' merapi disambut dengan letusan dahsyat. Tak menutup kemungkinan, merapi akan menunjukkan jatidirinya saat melihat para pemimpin yang dhalim. Dan merapipun akan 'berbicara' dengan caranya sendiri untuk 'menjewer' kedholiman dan kesewenang-wenangan para pemimpin. [muslimdaily.net]


--
“Apakah kalian mengira akan dibiarkan (begitu saja), sedangkan Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang yang berjihad diantara kalian dan tidak mengambil teman setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian kerjakan.”  (TQS. At Taubah [9] : 16)